Ramadan, Hari Kemenangan, dan Kekalahan.

     Sewajarnya, sekarang saya akan berada di Bone dan sedang mendatangi rumah-rumah keluarga Mama saya. Mereka akan memberikan saya dan sepupu saya kue kering, sirup ABC rasa jeruk, buras, ayam likku’, dan sup ayam. Ah, juga kacang dan bawang yang kembali saya lupakan namanya meski begitu saya senangi. Tapi, itu adalah sebuah das sollen. Das sein yang terjadi adalah saya berada di Takalar, saya bisa saja melakukan hal-hal yang saya lakukan di Bone, tetapi tidak bisa.

Atau saya yang tidak mau?

     Semalam saat menyiapkan makanan untuk hari ini bersama Mama, saya tiba-tiba saja merasa ada yang menyentil hati saya. Saya bahkan tidak bisa tidur memikirkan betapa saya tidak memenangkan apa-apa sebenarnya, hal yang membuat kegiatan masak-memasak saya menjadi berharga adalah saya melakukan hal tersebut bersama Mama saya. Berdua saja. Tetapi, saya tidak merasakan hal lain. Saya tidak merasa mendapat sebuah kemenangan, Ramadan pergi tanpa saya melakukan hal-hal berarti yang hanya bisa saya lakukan ketika ia ada. Lalu apa yang saya menangkan?

     Saya sama sekali tidak melakukan sholat tarawih, satu kalipun, di Ramadan ini. Saya tidak pernah lagi menyentuh Al-Qur’an, bahkan di Ramadan ini. Suatu kali saya mendengarkan ceramah yang membahas mengenai dua jenis puasa. Puasanya ular dan puasanya ulat. Ular akan berpuasa ketika berganti kulit, begitu berganti kulit ia hanya merubah kulitnya namun, dirinya tetap berbisa. Ulat akan berpuasa ketika ia menjadi kepompong, begitu keluar dari kepompong ia akan berubah menjadi kupu-kupu. Saya tidak bisa memaksakan diri saya dilabeli berpuasa seperti ulat, sebab saya tidak berubah menjadi indah. Saya juga bukan berpuasa seperti ular, meski perubahan kulit ular dapat disamakan dengan perubahan kondisi fisik ataupun pakaian baru yang digunakan, jika saya ular maka saya tidak hanya memiliki bisa. Saya menjadi jauh lebih buruk.

     Seorang teman pernah menegur saya, bahwa pertanyaan yang saya ajukan padanya adalah bukan urusan saya, sesuatu yang tidak seharusnya saya tanyakan. Ia betul. Meski pertanyaan itu saya ajukan untuk mencari tahu apakah kami sedang merasakan hal yang sama, sebelum saya menceritakan keresahan saya. Toh, saya melakukan kesalahan dan itu seperti daun pisang yang sobek di bagian tengahnya dan tidak dapat lagi kau gunakan untuk membuat buras. Harusnya saya tidak perlu mengumbar ibadah saya, juga permasalahan saya dengan teman saya. Tapi, seperti yang saya bilang, jika saya ular maka saya adalah ular yang tidak hanya memiliki bisa, saya juga bodoh. Harusnya, harusnya, dan harusnya, semua pertanyaan itu saya tanyakan kepada diri saya sendiri.

Mengapa?

…lalu apa?

     Bahkan untuk menjawab pertanyaan sendiri saya kesulitan menguraikan isi pikiran saya. Saya hanya tahu bahwa setelah keluar dari kepompong, setelah berpisah dari Ramadan yang tidak saya yakini dapat saya temui lagi, saya berubah menjadi sesuatu yang tidak indah. Saya tetaplah egois dan lamban dan egois dan malas dan bodoh. Jauh lebih buruk daripada berpuasa seperti ular. Tidak melakukan puasa bukan lah sebuah jawaban, sebab saya mengimani apa yang menjadi kepercayaan saya. Saya tidak bisa menyalahkan orang-orang dungu yang begitu fanatik akan Tuhan dan agama –meski mereka pun dijadikan alat untuk kepentingan lain- sebab mereka membuat saya jengah dan jengkel. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.

     Seseorang pernah mengingatkan saya untuk tidak terlalu sering meminta maaf, saya selalu melakukannya bahkan sebelum orang-orang meminta maaf di Hari Kemenangan ini. Saya meminta maaf sebab saya tidak berniat menyakiti orang-orang, sebab saya tidak ingin semakin terlihat buruk rupa. Meminta maaf pada bulan Ramadan sebab begitu menyia-nyiakannya dan kepada Allah karena menjadi makhluk yang begitu sia-sia, rasanya juga tidak tepat. Hari ini ketika saya saling meminta maaf kepada keluarga dan teman, saya merasa saya akan kembali meminta maaf di hari yang lain, akan kembali menyakiti mereka. Terutama Mama saya yang sebelum sholat Ied sudah saya buat jengkel, sebab saya membuatnya menunggu terlalu lama. Sebab hati saya tidak benar-benar memaafkan.

Saya lupa minta maaf pada seseorang,

…saya lupa meminta maaf kepada diri saya sendiri.

Leave a Reply