Penderitaan dan Pelepasan – Yang Ringan-ringan dari Kematian

Sebagai biksu, saya sering berurusan dengan kematian. Memang sudah bagian dari tugas saya untuk memimpin upacara pemakaman secara Buddhis. Akibatnya, saya jadi kenal secara pribadi dengan banyak pengurus pemakaman di Perth. Barangkali karena tuntutan pekerjaannya, mereka harus tampil dengan serius, padahal secara pribadi mereka punya selera humor yang baik.

Sebagai contoh, seorang pengurus pemakaman menceritakan kepada saya tentang sebuah pekuburan di Australia Selatan yang terletak di sebuah rongga tanah liat. Katanya kepada saya, beberapa kali mereka telah menyaksikan peristiwa yang sama, ketika mereka baru menurunkan peti mati ke dalam lubang kubur, semburan keras muncul dan air pun menggenangi lubang itu. Selama pendeta memanjatkan doa, peti mati itu pun perlahan-lahan mengapung hingga muncul ke permukaan!

Lalu ada cerita tentang seorang padri di Perth yang,dalam tugas pelayanan perdananya, secara kurang hati-hati telah menyentuh semua tombol yang ada di mimbar. Seketika di tengah-tengah pidatonya, peti mati mulai bergerak melewati tirai, melindas kabel mikropon dan terompet panggilan terakhir menggema di seluruh kapel! Tak disangkal lagi bahwa almarhum pastilah seorang pecinta damai.

Seorang petugas pemakaman punya kebiasaan untuk menceritakan lelucon kepada saya sambil berjalan bersama-sama di depan mobil jenazah, saat memimpin iring-iringan, hingga sampai di sisi liang kubur. Pada setiap bagian pokok dari leluconnya, yang mana semuanya memang sangat lucu, dia akan menyikut rusuk saya dan berusaha membuat saya tertawa. Saya mengerahkan segenap daya untuk menahan diri supaya tidak tertawa terlalu keras. Jadi, saat kami mendekati tempat upacara,
saya harus tegas-tegas mengatakan kepadanya supaya berhenti melucu agar saya dapat menampilkan paras yang lebih pas dengan suasana upacara pemakaman. Tetapi teguran itu malah merangsangnya untuk mulai melontarkan lelucon lain, dasar sinting!

Selama bertahun-tahun, saya belajar bagaimana cara menghidupkan suasana pemakaman Buddhis yang saya pimpin. Beberapa tahun yang lalu saya memberanikan diri untuk menceritakan lelucon untuk pertama kalinya di sebuah upacara pemakaman. Ketika saya baru saja memulai lelucon itu, pengurus pemakaman yang berdiri di belakang orang-orang yang sedang berdukaita, dapat menduga apa yang akan saya lakukan dan melotot kepada saya, mencoba menghentikan saya. Tidak pantas menceritakan lelucon di upacara pemakaman, tetapi saya berkukuh. Muka si pengurus pemakaman berubah lebih pucat ketimbang wajah si mayat. Pada akhir lelucon itu, pecahlah tawa yang menggema di antara orang orang yang sedang berkabung, dan seringai si pengurus pemakaman menampakan kelegaan. Keluarga dan teman teman
almarhum mengucapkan selamat kepada saya sesudahnya. Mereka berkata bahwa almarhum pastilah ikut menikmati lelucon itu dan betapa senangnya almarhum karena semua orang yang dikasihinya mengiringi kepergiannya dengan senyuman. Sekarang saya sering melontarkan lelucon itu di upacara pemakaman. Mengapa tidak? Apakah anda mau keluarga dan teman anda mendengarkan lelucon pada saat upacara pemkaman anda? Setiap kali menanyakan hal itu, jawabannya selalu “Ya!”

Jadi apa sih leluconnya?

Sepasang suami istri yang sudah tua telah hidup bersama dalam jangka waktu yang lama, sampai2 ketika salah satu dari mereka meninggal, yang satu menyusul beberapa hari kemudian Jadi mereka pun muncul bersama-sama di surga.

Sesosok malaikat cantik membawa mereka berdua ke sebuah wisma megah di puncak sebuah jurang yang langsung berhadapan dengan samudra lepas.

Dalam kehidupan di dunia, hanya para miliarder yang mampu memiliki real estate luar biasa seperti itu Sang malaikat menyatakan bahwa wisma megah itu adalah milik mereka sebagai pahala surgawi.

Si suami adalah seorang yang praktis, dan tiba-tiba berkata, :
”Wah, ini bagus sekali, tetapi saya rasa kami tidak mampu membayar pajak bumi dan bangunan untuk properti sebesar ini.”

Sang malaikat tersenyum manis dan memberi tahu mereka bahwa di surga tak ada pajak.
Kemudian dia membawa pasangan itu melihat-lihat ke bagian dalam rumah megah itu.
Setiap ruangan dilengkapi dengan cita rasa mewah. sebagian dengan perabot antik,
sebagian dengan perabot modern.

Lampu kristal yang tak ternilai harganya menghiasi langit-langit rumah. Keran dari emas padat berkilauan di setiap kamar mandi. Ada pula sistem DVD berikut televisi layar lebarnya.

Pada penghujung tur itu, sang malaikat berkata bahwa jika ada apapun yang mereka tak sukai, silahkan memberitahu dia dan akan langsung menggantinya.

Semua itu adalah pahala surgawi untuk mereka.

Si suami mulai menghitung-hitung nilai semua perlengkapan rumah itu dan berkata,
“Semuanya sangat mahal, saya rasa kami tak akan sanggup membayar premi asuransi untuk semua properti ini” Sang malaikat menaikkan bola matanya dan dengan lembut memberitahu mereka bahwa para pencuri tidak diperkenankan masuk ke surga. Jadi asuransi properti tidak diperlukan lagi.

Lalu dia menuntun mereka menuruni tangga menuju sebuah garasi besar rumah itu.

Didalamnya terdapat sebuah mobil SUV 4 – wheel drive model terbaru, yang berada disamping sebuah limusin Rolls-Royce Touring yang mengkilat, dan mobil ketiga adalah
Ferrari sport merah limited edition yang atapnya bisa dibuka. Dalam kehidupannya didunia, si suami selalu mendambakan punya mobil sport hebat seperti itu,
tetapi itu hanya sebatas impiannya. Sang malaikat bilang jika mereka ingin mengganti modelnya,atau warnanya, jangan sungkan-sungkan memberitahu dia.

Semua itu adalah pahala surgawi untuk mereka.

Si Suami bergumam, ” Sekalipun kami sanggup membayar biaya STNK untuk mobil-mobil itu, padahal sesungguhnya kami tak mampu, buat apa sih mobil sport supercepat zaman sekarang?

Saya akan hanya kena denda ngebut.” Sang malaikat menggeleng-gelengkan kepala dan dengan sabar memberitahu mereka bahwa di surga tidak ada biaya registrasi kendaraan, dan juga tak ada kamera pengintai kecepatan. Si suami boleh mengebut semaunya dengan Ferrari-nya.

Kemudian sang malaikat membuka pintu garasi. Diseberang jalan terbentang lapangan golf 18-lubang yang menakjubkan. Sang malaikat berkata bahwa di surga mereka tahu kalau si suami sangat menggemari golf, oleh karena itu mereka sengaja menambahkan lapangan golf indah yang dirancang sendiri oleg Tiger Wood!

Tetap saja si suami terlihat murung ketika dia berkata, “Ditaksir dari gedungnya saja kelihatannya itu adalah klub golf yang sangat mahal, saya rasa saya tak sanggup membayar biaya keanggotaannya.”

Sang Malaikat mengerang, tetapi segera memulihkan kesabaran ilahinya, lalu meyakinkansi suami bahwa : “tak ada biaya apapun di surga” Lagipula dilapangan golf surga, Anda tidak perlu antri untuk memukul bola, bola tak akan pernah masuk ke bunker, dan rerumputannya dirancang supaya dengan cara apapun Anda memukul, bola akan selalu bergulir ke lubang.

Semua itu adalah pahala surgawi untuk mereka.

Setelah sang malaikat meninggalkan mereka berdua, si suami mulai memarahi istrinya.
Begitu marahnya dia kepada istrinya, sampai dia meneriakinya dan mengomelinya dengan galak. Si istri tak mengerti mengapa suaminya begitu marah

“Mengapa kamu begitu marah kepadaku?” katanya memelas.
“Kita memiliki rumah megah yang indah ini berikut perlengkapan mewahnya. Kamu mendapatkan Ferrari idamanmu yang dapat kamu kebut sesukamu, dan sebuah lapangan golf persis disebrang jalan,
Mengapa kamu begitu marah kepadaku?’

“Karena, istriku,”si suami berkata dengan getir. ”Andai saja kamu tidak memasakkan makanan-makanan yang sehat untukku, maka aku sudah akan berada disini sejak bertahun-tahun lalu!”

Leave a Reply