Tradisi Pemakaman Unik Warisan Leluhur Desa Terunyan Bali Indonesia

Sepasang boneka diletakkan dekat Pohon Taru Menyan.

Pulau Dewata dikenal memiliki penduduk yang mayoritas beragama Hindu. Kepercayaan tersebut identik dengan upacara kematian khasnya yaitu Ngaben, yang melakukan proses pembakaran pada jenazah.

Namun jika berkunjung ke Desa Trunyan, Kintamani, kita akan menemukan hal berbeda Orang yang sudah meninggal di desa ini tidak akan dibakar, melainkan dibiarkan hancur secara alami.

Landscape Gunung Batur dan Danau Batur, Kintamani, Bali, Indonesia
Dermaga untuk menuju ke Makam Desa Terunyan, Kintamani, Bali, Indonesia

Terunyan atau Trunyan adalah sebuah desa yang berada di kecamatan KintamaniKabupaten Bangli, provinsi BaliIndonesia. Terunyan terletak di dekat Danau Batur diyakini sebagai desa tertua di Pulau Dewata.

Berkendara menggunakan speed boat sekitar 10 menit guna mencapai lokasi
Desa Terunyan terletak di dekat Danau Batur, Bali, Indonesia
Pintu Masuk menuju kuburan masyarakat Desa Terunyan, Bali, Indonesia
Sejumlah sesaji didekat kuburan masyarakat Desa Terunyan, Bali, Indonesia
Bentuk kuburan di Desa Terunyan, Bali, Indonesia
Salah satu bagian tubuh dari jasad yang dibiarkan membusuk secara alami

Untuk menghindari binatang buas yang bisa merusak mayat, di sekitar makam akan diberikan penghalang dari ulatan bambu bernama ancak saji yang berbentuk segitiga dan dibuat memanjang sesuai dengan ukuran tubuh mayat.

Uniknya, walau mayat akan dibiarkan di alam terbuka, tidak ada bau busuk yang tercium, Hal ini dikarenakan jenazah diletakkan di dekat pohon Taru Menyan. Sebuah pohon yang sudah berdiri selama ribuan tahun itu justru akan menyebarkan wangi di sekelilingnya, jadi bau busuk dari jenazah tidak akan tercium.

Pohon Taru Menyan dalam bahasa setempat “Taru” yang berarti pohon dan “Menyan” yang artinya harum.
Susunan tengkorak pada fondasi berbatu di Kuburan Desa Terunyan, Bali, Indonesia

Mayat dibiarkan hancur secara alami apabila sudah tinggal tulang, mayat baru akan dipindahkan. Tulang badan, tangan, dan kaki di tumpuk di samping pintu gerbang. Sedangkan untuk kepala akan diletakkan di sebuah fondasi batu dan disusun berjejer dengan yang lain.

Baca Juga: Pesona Gunung Bromo Di Jawa Timur

Leave a Reply