Penderitaan dan Pelepasan – Sisi atas daan Sisi Bawah Kematian

Barangkali momen yang paling mengharukan dalam upacara pemakaman adalah ketika peti jenazah diturunkan ke dalam lubang kubur atau, pada proses kremasi, saat tombol ditekan untuk menggerakan peti mati menuju bejana pembakaran. Saat saat itu seolah kenangan fisik terakhir atas orang yang dikasihi berlalu untuk selama-lamanya. Sering kali pada momen itu air mata tak terbendung lagi jatuh berderai.

Momen semacam itu, terutama menjadi sulit di sebuah krematorium di Perth. Di sana, ketika tombol ditekan, peti jenazah turun ke bagian bawah tanah tempat oven berada. Ini dimaksudkan agar bermakna sama dengan pemakaman. Bagaimanapun juga, orang mati yang pergi ke bawah menyiratkan lambang pergi ke neraka! Kehilangan orang-orang yang dikasihi saja sudah cukup berat rasanya; ditambah berat lagi, dengan isyarat kepergian ke dunia bawah.

Oleh karena itu, suatu kali saya pernah mengusulkan untuk membangun kapel krematorium, yang mana ketika pendeta menekan tombol untuk melepaskan kepergian almarhum, peti jenazah akan terangkat dengan anggunnya. Sebuah lift hidrolik sederhana sudah memadai untuk keperluan itu. Saat peti mati mendekati langit-langit, peti itu akan lenyap di tengah gumpalan awan buatan dari es kering, melewati pintu atap menuju rongga di atasnya, diiringi oleh musik-musik surgawi yang manis. Betapa akan menakjubkan sekali dampak psikologis yang ditimbulkannya terhadap orang-orang yang sedang berkabung!

Akan tetapi, seseorang yang mempelajari usulah saya itu menyarankan bahwa usulan ini bisa memupuskan intergritas suatu upacara, terutama pada kasus dimana setiap orang tahu bahwa orang yang berada di dalam peti mati adalah jenis orang yang “sulit pergi ke atas”.

Lalu saya menyumparnakan usulan saya, dengan menyarankan untuk menyediakan tiga buah tombol untuk mencakup semua kasus: sebuah tombol “naik” hanya untuk orang-orang yang baik, sebuah tombol “turun” untuk para bajingan, dan sebuah tombol “datar” untuk mayoritas orang yang biasa-biasa saja. Lantas, dalam rangka menerapkan prinsip – prinsip demokrasi Barat yang kita anut, serta untuk menambahkan gereget terhadap upacara pemakaman yang suram, saya daoat meminta orang-orang yang sedang berkabung untuk mengangkat tangan dan memilih tombol manakah yang akan ditekan! Ini akan membuat upacara pemakaman menjadi peristiwa yang paling dikenang, dan sayang dillewatkan begitu saja.

Leave a Reply