Kebebasan dan Kerendahan Hati – Aturan Busana Biksu

Para Biksu dalam tradisi saya mengenakan jubah berwarna cokelat, dan hanya itulah pakaian yang kami miliki. Beberapa tahun yang lalu, selama beberapa hari saya harus dirawat di sebuah rumah sakit di Australia. Di bagian penerimaan, syaa ditanya apakah saya membawa piyama sendiri. Saya bilang bahwa biksu tidak memakai piyama; biksu hanya memakai jubah ini belaka! Jadi mereka membiarkan saya memakai jubah saya.

Soalnya, jubah biksu ini mirip seperti gaun.

Pada suatu hari Minggu sore di pinggiran Perth, saya tengah memuat barang-barang untuk pembangunan wihara ke dalam mobil van milik wihara. Seorang gadis Australia berusia tiga belas tahun muncul dari rumah di dekat situ untuk berbicara kepada saya. Sebelumnya dia belum pernah melihat seorang biksu. Berdiri di depan saya sambil berkacak pinggang, dia memandang saya dari atas ke bawah dengan pandangan yang merasa jijik. Lalu dia mulai memarahi saya dengan suara penuh kemuakan, ” Kamu pakai rok seperti cewek! Sinting! Wueek!”

Gayanya begitu sok-sokan, sehingga saya tidak tahan untuk tidak tertawa. Saya mengingat guru saya, Ajahn Chah, yang menasihati murid-muridnya bagaimana cara menanggapi bila dilecehkan, ” Jika seseorang menyebut anda anjing, jangan marah. Sebaliknya, cukup lihat saja pantat anda. Jika Anda tak melihat ada ekor disana, itu berarti anda bukan anjing. Beres sudah!”

Kadang, saya mendapat pujian karena mengenakan jubah syaa di depan umum. Pada suatu kejadian, bagaimanapun juga, kejadian itu sempat membuat saya merinding juga.

Saat itu saya sedang ada suatu keperluan di kota. Sopir saya ( para biksu tidak diizinkan menyetir mobil) memarkir kendaraan milik wihara kami di tempat parkir bertingkat. Dia bilang bahwa dia kebelet pipis, tetapi karena menurutnya toilet di tempat parkir itu jorok, dia ingin menikmati kenyamanan toilet yang ada di ruang tunggu sebuah bioskop dekat situ. Jadi, selama sopir saya sedang menuaikan hajat alaminya, saya menunggu di luar bioskop tersebut, berdiri di pinggir jalan yang ramai, dalam jubah biksu.

Seorang pemuda menghampiri saya, tersenyum manis dan bertanya apakah saya punya waktu. Biksu-biksu seperti saya ini sangat lugu. Saya telah hidup di wihara hampir sepanjang hidup. Juga karena biksu pun tidak punya jam tangan, maka dengan sopan saya meminta maaf bahwa saya tidak tahu waktu (jam). Pemuda itu mengenyitkan keningnya dan berjalan menjauh.

Ketika dia baru saja beberapa langkah meninggalkan saya, tiba-tiba saya tersadar apa yang dia maksud. ” Apakah kamu punya waktu?” rasa – rasanya adalah kutipan terkenal dari sebuah buku. Dan belakangan saya sadari bahwa saya tengah berdiri pada salah satu tempat pertemuan paling populer bagi kaum homoseksual di Perth!

Pemuda itu berbalik meoleh ke arah saya lagi dan berkata dengan suara Marilyn Monroe-nya yang paling merdu ” Oooh! Tetapi kamu cantik juga sih pakai gaun itu!”

Saya mengakui bahwa saat itu saya mulai bermandikan peluh. Untunglah, sopir saya muncul dari ruang tunggu bioskop untuk menyelematkan saya. Semenjak itu, kami menggunakan toilet di tempat parkir.

Leave a Reply